Nah, ini poin yang agak sensitif ya—apalagi buat yang usia udah cukup, kerjaan udah ada, tapi belum nikah. Udah pasti, tiap kali lebaran datang, pertanyaan “Kapan nikah?” mulai berdatangan dengan sangat bersemangat. Wkwk.
Gua juga sering ngerasa hal yang sama sih, dan kadang pertanyaan itu jadi bahan bercandaan yang agak nyerempet juga. Tapi gua ngerasa, menikah itu ternyata bukan sekedar keputusan yang tiba-tiba, tapi ada banyak hal yang harus disiapkan, dipertimbangkan, dan dikompromikan.
Bahkan, ada hal-hal yang kadang nggak bisa kita ceritakan ke orang lain tentang “kenapa” kita belum menikah. Bisa jadi karena alasan yang lebih dalam yang sifatnya pribadi banget. Itu juga yang kadang bikin proses ini terasa lebih lama daripada yang orang lain lihat.
Gua juga ngerasa, meski usia kita udah dirasa cukup, kerjaan udah mapan, tapi ada banyak hal yang harus diperbaiki sebelum kita siap untuk menikah. Pernikahan bukan hanya soal siap secara finansial, tapi juga fisik, mental, dan emosional. Kita harus siap untuk menjalani kehidupan baru dengan pasangan, menerima kekurangan dan kelebihan satu sama lain, dan berkomitmen untuk saling menguatkan.
Yang paling penting menurut gua adalah, terus perbaiki diri sendiri dulu. Jangan cuma fokus nyari pasangan, tapi juga fokus untuk jadi pribadi yang lebih baik—secara mental, spiritual, dan finansial. Ikhtiar itu penting, tapi ikhtiar bukan berarti terburu-buru. Nikmati prosesnya, belajar dari pengalaman, dan kalau saatnya datang, semoga kita bisa jadi pasangan yang baik juga buat orang lain.